web site hit counter BISMILLAH » bloggaul.com
     
    HOME BLOG
   
  BISMILLAH
http://haerulsohib.bloggaul.com
Login | Belum terdaftar? | Lupa password?  
   
   

PENGUMUMAN:
BlogGaul mau berubah ...
 
Kamis, 30 Oktober 2008 @ 02:10 WIB - Komputer & Internet


Semoga logo berikut ini bisa menyemarakkan per-Blogger-an di indonesia...Dan untuk visualisasinya, berhubung karena udah capek, mohon teman-teman mengartikan sendiri...hehehehe...maaf ya...berikut gambarnya : ingat : Kritikannya wajib ada, biar cepet pintar..hehehehehe










Disarankan: 0
  Komentar: 19 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



Rabu, 29 Oktober 2008 @ 03:54 WIB - Diari


"You would need a good lawyer to set you free from the Jail of My Heart"

Bangunan-bangunan tinggi di makassar menjulang ke langit seperti membusungkan dada tanda kecongkakan, namun di balik itu gubuk reok nan liar masih saja ada, merasa terusik, Kota dengan dalil ketertiban terpaksa menyingkirkannya, tanpa ada solusi yang memuaskan di pihak tergusur.

Saat pilkada tiba, mereka yang tergusur tiba-tiba di cari, dibutuhkan untuk sumbangsih suara. Dengan iming-iming dan janji-janji indah. Kota Makassar, mungkin sama juga dengan kota-kota lainnya, berbuat hal yang sama.

Disisi lain Seorang kakek yang bermukim di belakang gedung tinggi sebuah perusahaan besar milik keluarga pejabat tinggi, tidak peduli dengan sepak terjang kota, kesehariannya sebagai penarik becak dan juga berkebun di sekitar tanahnya sangat dinikmatinya, namun ada hal yang mengganjal di hatinya " Saya Nak, sudah lama tinggal disini, dari orang tua saya mewariskan tanah ini untukku, orang tuaku dapat dari orang tuanya juga, jadi turun temurung. namun sayang, sejak saya cerai, istri dan anakku sematang wayang yang perempuan juga ikut diambilnya, kabarnya ia pergi ke sulawesi utara, sampai sekarang tidak ada kabarnya, jadi saya hanya tinggal disini sendirian, tak ada pewaris " kenang kakek, disela-sela istirahatnya.

" Tapi, kenapa pemerintah itu, mau mengambil tanah ini, bahkan pernah ada orang yang datang dengan membawa beberapa ikat duit, katanya untuk membeli tanah ini. Tapi saya tolak, dan bahkan ada yang bilang mau bayar berapa saja, asal saya meninggalkan tempat ini. Berhubung ini pesan orang tua, maka saya tidak akan menjualnya pada siapapun, ini amanah nak !" Lanjut cerita kakek tadi sambil mengeluarkan asap rokok dari tembakau gulungannya sendiri.

" Saya tidak habis pikir, kenapa tanah yang sempit ini dipermasalahkan, kalau pemerintah mau bangun gedung tinggi, khan masih banyak tanah yang lain yang masih kosong " Kakek itu kembali melanjutkan ceritanya dengan nada agak jengkel. Sambil saya mendengarkannya dengan serius.

Tanah sang kakek yang terletak sangat strategis itu, sudah menjadi rebutan beberapa pihak, termasuk pemerintah. Alasan dari mereka adalah tanah sang kakek kena garis pembangunan kawasan pusat bisnis kota, Jika rumah dan tanah sang kakek masih ada, jelas sangat mengganggu keindahan kota, Jika dilihat dari atas dengan helikopter memang agak janggal, bahkan dilihat dari segi ilmu arsitek.

Pemerintah dan pihak lainnya kesulitan menyingkirkan sang kakek, dari segi notaris memang tanah itu atas nama sang kakek, moyangnya membeli dari seorang jawa yang sudah pulang kampung dengan harga yang masih murah. jadi tanah sang kakek resmi miliknya, bukan penduduk liar. cuman kerakusan kota yang terus mengusik tidurnya.

Pernah ada beberapa orang dengan penampilan dan postur seperti marinir datang dengan ancaman, namun kakek itu tak bergeming. Tapi untunglah, bodyguard itu hanya mengancam, sehingga sang kakek masih aman-aman saja. Tapi keesokan harinya, sang kakek mengalami musibah kebakaran saat sedang tidur, dengan bantuan orang yang sempat lewat di depan rumahnya, sang kakek bisa selamat.

Dengan menyadari posisinya sang kakek ingin lepas dari masalah ini, apalagi diusia yang sudah senja ia ingin segera mewariskan tanah itu, namun sang kakek tidak tahu kepada siapa ia akan mewariskannya, Ia hanya sebatang kara sejak ditinggal istri dan anaknya, ingin mencarinya tapi tak tahu kemana.

Di sebuah mesjid tempat ia sering menunaikan ibadah, pikirannya melayang, ia ingin mewakafkannya tapi ukuran tanah yang kecil dan jorok mungkin itu yang menjadi pertimbangannya, merasa kurang layak untuk di wakafkan, apalagi teringat dengan pesan orang tuanya 'jangan pernah dijual'.

Di sudut ruangan mesjid sang kakek masih duduk termenung, tiba-tiba seorang dengan rambut gondrong dan berjanggut datang menghampirinya, " Kek, sedang merenung ya ? " Tanya pemuda itu, " Ya..Nak..kakek punya masalah berat " seperti biasa, dalam mesjid itu jemaah saling akrab, seperti saudara. Mesjid itu memang dari dulu menjadi tempat berkumpul orang-orang yang tidak punya keluarga.

Setelah menceritakan duduk masalahnya, sang pemuda menyarankan agar sang kakek datang saja ke lembaga bantuan hukum atau LBH, selain gratis juga membela kaum lemah dan cocok yang tidak mengerti soal hukum.

Maka keesokan harinya berangkatlah sang kakek ke tempat yang telah ditunjukkan oleh pemuda tadi, di tempat itu ia bertemu dengan seorang wanita cantik, muda dan enerjik. Salma, begitulah panggilan wanita itu. lebih lengkapnya, Salma,SH. Ia seorang pengacara muda, namun pengalamannya tidak diragukan lagi. " Kakek datang di tempat yang benar, saya akan memperjuangkan Hak kakek, besok saya akan ke tempat kakek dan melihat kelengkapan surat-suratnya ".

sebelum hendak meninggalkan kantor LBH itu, sang kakek bertanya,
" Nak, berapa yang mesti saya bayar untuk kasus ini, saya tidak punya apa-apa kecuali tanah dan gubuk kotor itu ".
"Kek, lembaga ini didirikan memang untuk orang-orang yang tidak mampu, jadi jangan khawatirkan itu " Salma menjelaskannya dengan keyakinan penuh.
" Terimakasih Nak, semoga Tuhan membalas jasamu ini" sambil berlalu kakek teringat akan anaknya yang dari kecil sudah ditinggalkan bersama ibunya sambil berucap " Jika anakku masih hidup, mungkin sudah sebesar pengacara itu.

Setelah meminta bantuan dari LBH, sang kakek tambah tidak tenang, malah berbagai gangguan sering saja di alamatkan kepadanya, dan seperti biasa, pelaku-pelakunya masih dalam penyilidikan pihak berwenang, dan tak pernah terungkap. Tapi untunglah, Salma selalu membantunya, melindunginya hingga membawanya tinggal sementara di rumahnya. Salma tak pernah membeda-bedakan, siapa saja yang datang dengan tulus meminta bantuan, ia tanpa pamrih membantunya. segala upaya dikerahkannya.

" Saya ini sudah tua nak, ada keluarga tapi entah sampai saat ini tak tahu kemana rimbanya, apalagi saya sering sakit-sakitan, mungkin sangat mengganggu nak Salma disini ".

" Kek, jangan bicara seperti itu, kakek berhak mendapatkan hidup layak di hari yang sudah tua ini, apalagi tempat saya masih luas, masih banyak kamar kosong, saya kok tidak keberatan, saya sudah menganggap kakek seperti orang tua saya, walau saat ini saya juga tidak tahu kemana orang tua saya, sejak kecil saya dibesarkan di pantu asuhan, sehingga saya tidak tahu siapa orang tuaku " Salma berusaha agar sang kakek tidak merasa risih tinggal dirumahnya.

" Kenapa kakek begitu gigih mempertahankan tanah itu, padahal ada yang mau membayar mahal, dan tanah itu tidak luas " Pertanyaan Salma sontak membangkitkan masa lalu sang kakek.

" Begini nak, orang tua saya dulu pernah berpesan, dan penyampaian pesannya itu begitu keras, hampir setiap hari selama ia masih hidup selalu diucapkannya. juga dalam setiap mimpi saya selalu saja pesannya itu-itu. " sang kakek menjelaskan masa lalunya.

Di Malam harinya, sang kakek kembali bermimpi, kini mimpinya beda, bukan lagi pesan orang tua sang kakek untuk mempertahankan tanah itu agar tidak dijual, tapi malah disuruh mewariskan kepada seseorang, namun belum sempat disebutkan sang kakek terbangun akibat bunyi ledakan di samping rumah Salma, ternyata setelah di lihat ledakan itu dari sebuah kompor yang tidak dimatikan dan ditinggal oleh pemilik rumah, untungnya kebakaran tidak terjadi.

Sang kakek bertanya-tanya, kepada siapa saya mewariskan tanah itu, kenapa orang tua saya begitu gigih mempertahankan tanah itu. Sebagai orang yang pernah hidup di zaman penjajahan belanda, tentunya mimpi adalah sebuah pesan yang sangat tidak bisa diabaikan.

Keesokan harinya, sang kakek belum lagi bermimpi, ia sangat berharap mimpi itu datang lagi, memberitahukan sejelas-jelasnya kepada siapa ia harus mewariskan tanahnya.

Mimpi yang diharapkannya itu akhirnya datang juga, namun kali ini yang dimimpikannya sungguh tidak jelas, hanya nampak seorang wanita yang berjalan mendekati dirinya, sedang mencium tangannya, wanita itu mirip Salma. Mimpi itu tiga hari berturut-turut datang, dan hanya itu-itu saja.

Di Subuh hari setelah ia shalat, ia berusaha menafsirkan mimpi-mimpinya, " Apakah gadis dalam mimpiku itu adalah Salma ? " gumamnya dalam hati saat berdiam di mesjid.

Akhirnya, setelah lama menunggu kejelasan mimpinya, malam itu tepat di malam jum'at, ia bermimpi dengan jelas, nampak Salma sedang memeluknya sebagai tanda kasih sayang, seperti orang tua dan anaknya. Dan ia sedang berdiri di atas tanahnya yang memancarkan kemilau cahaya.

Kini ia mengerti, hanya Salma yang berhak menerima tanah itu, namun pikirannya kembali terbersik oleh arti dari kemilau cahaya yang ada di tanahnya itu.

Salma juga mengalami mimpi tentang siapa sebenarnya dirinya, dan tekad untuk mencari tahu ikhwal dirinya akhirnya diselidikinya sendiri, mulai dari panti asuhan tempat ia besarkan, hingga akhirnya ia menemukan siapa dirinya sebenarnya.

Setelah mimpi yang dialami sang kakek, tiba-tiba ia mengalami sakit yang begitu keras, Dokterpun belum mampu mendiagnosa penyakit yang dideritanya, nampak dirumah sakit ia ditemani oleh Salma, sang kakek meminta agar segera dibuatkan surat wasiat.

" Nak, sudahkah kautemukan siapa keluargamu ? " pertanyaan awal sang kakek dengan batuk yang kadang menyiksa. " Tolong segera kau buatkan surat wasiat, kamu khan mengerti hukum, bahwa tanah itu hanya untuk kamu, walau ukurannya kecil tapi ada sesuatu didalamnya, ini amanah nak, sebelum aku pergi aku ingin kamu memilkinya".

" Kenapa kek, bagiku kakek adalah keluargaku, itu yang lebih penting, sekarang kakek harus sembuh " isap tangis Salma membasahi pipinya.

"Jangan kau tunda lagi nak, segeralah lakukan saran saya " mohon kakek dengan sangat. Dan dengan terpaksa Salma mengurus surat wasiat itu.

******

Tangisan Salma di subuh yang dingin tak jua tertahankan, sang kakek akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir, yang sebelumnya sudah menandatangani surat wasiat buat Salma.

Betapa terkejutnya Salma, ketika tanah peninggalan sang kakek di garapnya, yang berukuran tidak besar dari lapangan takraw untuk membuatkan sebuah monumen peringatan mendiang sang kakek, ternyata, menyimpan banyak berkilauan emas dan berlian, serta benda-benda bersejarah lainnya dari peninggalan raja-raja Gowa abad ke IV. Dari benda itu, terkuaklah siapa sang kakek sebenarnya, ia adalah keturunan Raja.

Salma pun tak hentinya bersyukur, namun kesedihan masih merasuk di kalbunya, ia masih teringat sang kakek, yang katanya punya anak perempuan yang seandainya hidup, mungkin sudah sebesar dirinya. Ia ingin sekali bertemu dengan anaknya itu, dan membagikan harta peninggalan tanah orang tuanya.


Disarankan: 0
  Komentar: 2 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



Selasa, 28 Oktober 2008 @ 22:52 WIB - Komputer & Internet


Ikut berpartisipasi juga membuat sebuah logo Blogger, walau mungkin sangat sederhana, Mohon kritikannya. Konsepnya sebagai berikut :

Disini nampak jelas gambar mouse merah putih dan ada tulisan didalamnya, ,melambangkan blogger saling terkait dengan perangkat IT, dan menyatu dalam sebuah media. dan bendera kecil yang agak runcing berarti kobarkan semangat Indonesia, apalagi saat ini peringatan sumpah pemuda yang berdekatan dengan hari Blogger Indonesia. Dan Nomor 1 di belakang logo berarti kita Blogger indonesia tentunya yang terdepan.....

Semoga berkenang...terimakasih...


Disarankan: 0
  Komentar: 5 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



Selasa, 28 Oktober 2008 @ 15:09 WIB - Musik, Film & Hiburan


"You would need a good lawyer to set you free from the Jail of My Heart"

Persatuan untuk menggapai keadilan dalam negeri ini nampaknya perlu digalakkan, hal itu sepertinya terbersik dalam benak Martha, airmatanya berlinang saat ia melihat tayangan berita menyedihkan di tv swasta, penggusuran, perampokan, korupsi, dan berbagai kejahatan lainnya. Banyak rakyat yang tertindas, dan berbagai hal buruk untuk negeri ini selalu saja tertulis dalam artikel-artikel media cetak, terutama hukum dan tatanan negara.

Martha.SH merindukan kedamaian dan keamanan dalam negeri ini, cita-cita yang sangat mulia, ia tidak tega melihat bangsanya terpuruk sedangkan dirinya dalam hidup yang berkecukupan, di tempat lain, seorang intel kepolisian begitu terpukul hatinya melihat seorang mahasiswa rela membelanjakan uang kuliahnya untuk membeli narkoba. suatu generasi yang terputus dan hilang. ia ingin sekali meringkus bandar terbesar narkoba, namun setiap kali ia menjebloskannya kedalam penjara, Bandar itu selalu saja bebas, sehingga sang intel merasa sia-sia saja melakukan itu, pelaku yang seharusnya mendekap dalam bui bahkan lebih pantas di hukum gantung, kini masih bebas berkeliaran, bahkan sempat menikmati perjalanannya keluar negeri. sehingga negara ini menjadi sasaran empuk penyebaran narkoba terbesar di Asia.

seorang hakim yang kewalahan mengungkap kasus terbesar korupsi karena begitu liciknya para koruptor itu membuat geram dirinya, dan ingin rasanya ia menjewer telinganya dihadapan rakyat banyak, namun sungguh para koruptor itu sedikit pun tak bergeming. seolah-olah tak ada pasal-pasal yang bisa memberondol para koruptor tengik itu.

"Mau di bawa kemana negara ini..." pertanyaan inipun muncul dari seorang Dosen yang sangat beram melihat keadaan negeri ini dalam sebuah matakuliah ' Negara dan Hukum ' yang dibawakannya. Nampak mahasiswanya sangat antusias memperhatikan paparan sang dosen yang begitu berapi-api. " Ini merupakan tanggungjawab kita semua saudara-saudara, mengapa kita menutup mata dengan keadaan yang ada disekitar kita. Bukankah persatuan telah diikrarkan, undang-undang sudah dipahat, tapi...mengapa hanya secuil saja yang kita bisa perbuat, sudah berlembar-lembar buku kita baca, tapi tak adapun yang kita lakukan untuk memperbaiki bangsa ini yang sudah di ambang kehancuran, jika demikian, maka lambat laun bisa ditebak negara ini akan terjual " begitulah paparan sang Dosen dengan sedikit "positif provokatif".

Hal ini tentunya menyentuh hati Martha yang sengaja juga hadir ingin menemui kawan lamanya, Sutrisno, sang Dosen tadi. Tepuk tangan kecil diberikan oleh Martha sebagai tanda ia salut dengan kuliah yang dibawakannya. " Hai...Martha, apa gerangan hadir di kampus ini, sudah lama kita tidak bertemu, gimana kabarnya ? " tanya Sutrisno sambil mengulurkan tangannya menjabat erat tangan Martha. " Baik, ternyata kamu masih peduli dengan keadaan negara ini, aku punya banyak rencana nih, mungkin kamu bisa ikut andil dalam rencanaku ini ".

" Baiklah, untuk lebih nyamannya, mari kita ke taman belakang kampus ini, disana sangat bagus kita berdiskusi" ajak Pak Dosen. Suasana asri taman kampus itu sungguh menyenangkan, tiupan angin sepoi, suara kicau burung dan beberapa kembang bunga yang tertata rapi, membuat kita bisa berlama-lama membaca atau berdiskusi.

"Baiklah Martha, sekarang katakan maksud kedatanganmu kemari " Sutrisno membuka pembicaraan. " Begini, kamu tahu khan profesiku, sebagai pengacara yang peduli pada negara ini, saya ingin melakukan perbaikan kehidupan bangsa ini, baik dari tatanan hukumnya maupun para personel yang bekerja di bawah bendera hukum, saya sudah muak dengan apa yang terjadi di negara ini walau kita tahu bahwa mewujudkan kehidupan yang harmonis 100 % takkan mungkin, setidaknya kita bisa berbuat untuk negara yang kita cintai ini" Cita-cita yang mulia bagi seorang wanita seperti Martha, membuat takjub Sutrisno. " Syukurlah masih ada orang yang peduli dengan bangsa ini, trus langkah kamu selanjutnya gimana ? ".

" Kalau dari kamu, yang sangat dibutuhkan adalah pemikiranmu, tentunya dengan disiplin ilmu yang kamu miliki akan sangat membantu langkah selanjutnya, apalagi kita kawan lama sudah saling mengetahui, dan apapun yang kamu butuhkan sebutkan saja, Dan... bukankah ini juga cita-ita kamu ?, mewujudkan tatanan bangsa yang adil dan makmur" Martha sangat berharap Sutrisno memiliki ide cemerlang agar setiap apa yang dilakukannya mampu mendobrak segala penghalang.

" Tapi, apakah hanya kita berdua saja yang bertindak, ingat..! semboyan persatuan, berarti ada lagi elemen masyarakat yang kita bisa gerakkan, setidaknya mereka punya visi dan misi yang sama dengan kita " Kembali Sutrisno melanjutkan. " Bukan hanya pemikiran yang kita lakukan, tapi tindakan yang nyata ".

" Benar, kita memerlukan lagi tambahan orang yang mampu bekerja dan berprofesi selain dari profesi kita" semangat Martha begitu riuhnya.

" Maksud kamu ? " Tanya Sutrisno.

" Kebetulan saya punya teman yang sering berkeluh kesah tentang negara ini, ia seorang interpol bagian kriminal dan Narkoba, sudah sering ia merasa heran, kenapa semakin ia bekerja keras, kejahatan dan berbagai penyebaran narkoba terus saja bertambah, padahal yang ketangkap bandar besarnya, ada apa ini ?" Martha menerangkan tentang kawan Interpolnya.

Lanjut Martha " Dan ia ingin sekali bekerja menuntaskan semua itu, tapi sistem yang membuat ia merasa seolah-olah pincang, bahkan ada keluarganya yang menjadi korban dari kebrutalan para bandar narkoba, mungkin ini bisa jadi alasan kita mengajak dia masuk ke dalam tim kita "

" Tim..? " Tanya Sutrsino.

" Ya..Tim...kita akan membuat tim, Tim yang bisa menberantas segala bentuk ketidakadilan di negeri ini, bak seorang tentara atau LASKAR yang siap bertarung habis-habisan demi suatu cita-cita mulia, dan semoga kita mendapat ridho dari yang kuasa". Ungkapan Martha membuat hati Sutrisno tergerak.

" Apakah hanya itu yang kita butuhkan ?, mengingat pekerjaan ini melawan orang-orang yang tidak sembarangan " Sutrisno masih memikirkan aspek lainnya.

" Tidak juga, Bahkan saya punya teman seorang Hakim, Hakim yang juga kesal karena beberapa hakim lainnya masih memikirkan uang, masih memikirkan kekayaan, sehingga mereka bisa dibeli, Tapi ia tidak, ia bahkan sempat mendapat percobaan pembunuhan karena bertindak benar di pengadilan, jadi ia berkesimpulan, lebih baik mati karena sebuah kebenaran dan keadilan daripada mati karena membantu penjahat atau mati stroke karena menerima uang sogokan "

" siapa Hakim itu ?" Tanya Sutrisno
" Ia sekarang mendapat pengawalan yang ketat, karena sebentar lagi ia akan menangani kasus besar, Kasus Korupsi yang melibatkan pejabat tinggi, Dia Pak Burhanuddin "

"Pak Burhanuddin...?, dia khan yang sering diberitakan oleh media-media beberapa minggu lalu " Tanya Sutrisno meyakinkan

" Yap, betul sekali, maka dari itu ia butuh orang-orang yang berkomitmen ". Tambah Martha.

Dari perbincangan itu, maka dibentuklah tim yang akan mengubah wajah bangsa ini, Laskar Hukum, begitulah sebutan mereka, semua kemampuan yang dimilikinya dipergunakan secara optimal, semua membagi tugas dengan kapasitasnya masing-masing. Intel kepolisian teman Martha bertugas mencari informasi dan meringkus para bandit-bandit penghancur negeri ini. Dengan kemampuan beladiri dan taktik yang jitu, makin membuat mudah langkahnya, dan setelah bukti-bukti didapatkan maka segera di peradilankan, tanpa kompromi. sehingga membuat ia semakin menyukai perkerjaannya. pekerjaannya tidak sia-sia.

Dan Martha sendiri bersama dengan Hakim Burhanuddin menyiapkan pasal-pasal untuk menjerat para bandit itu, dan Pak Sutrisno sebagai pemikir, menyiapkan berbagai strategi dan kemungkinan akibat dari sebuah proses tindakan, semua referensi dipersiapkan untuk berbagai kasus. misalnya menganalisa kasus Mafia terbesar dunia ' Alpacino ', mengapa mafia itu bisa begitu kuat, apa yang membuat dunia dan pemerintah Amerika bisa kesulitan mengatasi mafia itu. Semuanya dirumuskan oleh Pak Sutrisno untuk menghambat akar-akar mafia baru di indonesia dengan belajar sejarah per-Hukum-an dari negara luar, sungguh sebuah pemikiran yang luar biasa. Ahli hukum yang juga sebagai dosen, namun ia tidak ingin namanya di ekspos, cukup bekerja dibelakang meja.

Andai saja seluruh komponen negara bisa sekompak mereka, tentu kejahatan hanya tinggal 1 % saja.

Dibalik kesukseksannya menjerumuskan bandit-bandit besar, termasuk para koruptor, Martha dan beberapa tim lainnya khawatir badai itu akan datang, dan siap menghantam mereka, Maka dari itu, ia sengaja menyembunyikan identitas tim mereka, mereka beroperasi di bawah payung negara, dan cukup berhati-hati, karena sedikit saja tim ini bocor ke pejabat lainnya, maka dampaknya sangat luar biasa, selain dituduh atau difitnah menyepelekan negara juga akan menjadi incaran para bandit yang masih berkeliaran. memang tidak mudah, namun ia juga dibantu oleh para pakar teknologi informasi. Dan sengaja ia memilih tempat berkumpul yang sulit di jangkau, dan memiliki peralatan canggih. Bukan cuman satu tempat berkumpul mereka, tapi lebih dari itu, dan salah satunya adalah Warnet. dengan dilengkapi ruangan rahasia di dalamnya. Disinilah mereka berbagi informasi dengan dibantu oleh Operator.

Kasus demi kasus dituntaskan, hingga tiba kasus yang saling berkait, dari pengedar narkoba, pemakai dari kalangan artis sampai ke kalangan pejabat DPR, hingga akhirnya terkuak kasus penyucian uang di Bank Swiss dari koruptor kelas kakap negeri ini.

Inilah kasus yang membuat mereka hampir sulit tidur, betapa tidak, setiap ada bukti baru yang akan diangkat ke pengadilan, selalu saja ada peristiwa yang menyita perhatian masyarakat, seperti sebuah konspirasi untuk mengacaukan negeri, agar perhatian terhadap kasus yang sesungguhnya dialihkan, sehingga otak di balik kasus yang sesungguhnya masih bisa bernafas dan berkeliaran untuk menyusun rencana berikutnya. Itulah mungkin sebuah ketentuan, selama masih ada dunia, Setan atau iblis pun takkan pernah menyerah berjuang dengan pengikutnya. sehingga manusia seperti anggota Laskar Hukum kewalahan.

Detingan jarum jam mengusik malam yang kelam, berpacu dari titik poros keadilan, menerawang setiap langkah biduk kelaparan yang tak pernah kenyang, bergema di seluruh seantaro jagad negeri. Laskar Hukum menganga di buatnya, Hati mereka masih bertanya, apakah Tuhan masih mau melihat negeri ini, setidaknya menoleh untuk sebuah perbaikan.

Laskar Hukum kini mencari jalan sendiri-sendiri tapi masih tetap berkait, seperti pasal-pasal yang terpenggal-penggal tapi bisa saling membutuhkan, tergantung dari situasi dan kondisinya. Laskar-laskar Hukum akan tumbuh dan berkembang terus menerus, mengisi ruang khalustiwa, menancapkan akar-akar di setiap ruang Kitab Undang-undang. Begitulah ikrar hati seorang pengacara seperti Martha. SH. Ia membuka berbagai forum, pendidikan hukum dan konsultasi gratis, bahkan membina beberapa Lembaga bantuan Hukum, juga mengisi ruang media sebagai bentuk sadar hukum terhadap masyarakat. Semua itu, agar masyarakat mengerti hukum dan menerapkannya dengan sesadar-sadarnya, dan menjadi Laskar Hukum untuk memperjuangkan bangsa ini dari kebobrokan moral. Semoga Laskar-laskar Hukum hadir dalam hati masyarakat sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap bangsa ini.

nb : Met ulang tahun ya...untuk mbak rose....semoga menjadi bagian dari Laskar Hukum untuk negara ini..Amin...


Disarankan: 0
  Komentar: 3 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



Kamis, 23 Oktober 2008 @ 12:03 WIB - Diari


Pengantar : Cerita ini sebenarnya untuk diikutkan ke lombanya Mbak Rose, berhubung karena karakter utama seorang lelaki maka cukup di pampang disini saja dan ia merupakan pengacara bernasib malang, oke ...silahkan dibaca dan tentunya kritikan wajib ada.

********************************************************

Siang hari yang gerah menusuk tenggorokan leher kehausan, meliuk-liuk bagai ular sawah yang kelaparan, Pak Martin segera meneguk air mineral kemasan, begitu nyamannya, kesegaran sungguh terasa. setelah itu, Martin terus saja berusaha membacakan pasal demi pasal hukum yang sedang diketik oleh salah seorang asistennya, Jacob. Martin, yang bernama lengkap Martin Lucas, SH, adalah seorang pengacara handal, keturunan Toraja-Makassar. sudah banyak menangani kasus sengketa tanah, kriminal dan perceraian, dan semuanya telah dimenangkannya. pengacara yang multi fungsi ini memang cerdas, dan beberapa organisasi ke-advokat-an telah di ikutinya.

Namun kasus kali ini begitu membuat kepalanya pening bagai martil besar terjatuh langsung dari atas kepalanya dengan gravitasi penambahan percepatan yang luar biasa, bagaimana tidak, kasus ini berantai dan saling terkait dengan kasus lainnya, dan yang lebih memusingkan adalah anaknya terlibat dalam salah satu kasus yang ditanganinya, ini merupakan buah simalakama antara profesionalisme dan keluarga.

Kasus yang rumit, korupsi pejabat tinggi, konspirasi dengan berbagai organisasi rahasia yang mempunyai misi membuat chaos di negeri ini dengan berbagai isu-isu sosial-politik lainnya.

Dalam kekalutan pikirannya, pak Martin dengan teliti dan seksama mempelajari pasal-pasal terkait, dan bukti-bukti yang bisa diangkat ke pengadilan, dengan cermatnya ia mempelajari dokumen-cokumen yang tebalnya sekitar seratus halaman itu.

Berkali-kali pak Martin menghubungi anaknya yang menjadi tersangka penerima dana korupsi trilliunan rupiah dari seorang pejabat tinggi itu untuk sebuah organisasi rahasia, demi suatu kepentingan politik. pak Martin ingin agar anaknya memberikan keterangan yang jelas, namun anaknya beberapa hari ini tidak tahu kemana jejaknya. pak Martin dengan perasaan bersalah meneteskan air matanya.

jam 9 :30 pagi waktu makassar tapatnya hari senin, pak Martin mencoba mencari keterangan dari teman-teman anaknya yang biasa nongkrong di warnet-warnet terpencil di kota ini, salah satu warnet yang sering dikunjungi anaknya memang aksesnya agak sulit, disamping jalanannya yang kecil juga hanya sepeda motor yang bisa lewat. warnet itu sengaja seperti itu, sebab banyak yang ingin dihindari dari sipemiliknya, selain terbebas dari HAKI atau sweeping software juga bisa menyebarkan atau menerima informasi dari berbagai tempat demi melancarkan sebuah misi yang sedang diembangnya, sebuah misi rahasia. Dan juga, agar penduduk disana tidak curiga kalau tempat itu adalah sebuah perkumpulan organisasi rahasia.

suasana warnet yang begitu tenang nampak sangat tidak mencurigakan, Pak Martin berpura-pura menjadi user yang ingin mengakses internet, hal ini agar tidak menimbulkan kecurigaan. selain itu ia juga mencari informasi tentang kasus yang sedang ditanganinya, ia ingin mengambil artikel dan semacamnya sebagai referensinya.

Pak Martin mencoba mendekati operatornya, sekedar basa-basi ia menanyakan software-sodtware handal dalam bidang kemanan jaringan, namun sang operator terkesan cuek dan memberikan keterangan seperlunya saja. namun pak Martin tak kehilangan semangat begitu saja, sebagai seorang pengacara ia tentu lebih tahu cara berkomunikasi dengan sasaran atau saksi.

"SpeedNet" nama warnet itu terletak tidak jauh dari kampus terbesar di Makassar ini, memasuki area itu terlebih dulu lewat sebuah kanal besar, kemudian lewat jembatan kecil dan melalui beberapa gang-gang, di sekitar area itu terdapat juga tempat kost bagi mahasiswa/i, sehingga pelanggannya juga dari kalangan anak-anak kuliahan yang sedang mencari tugas.

sembari bertanya-tanya mengenai dunia IT, Pak Martin mencoba mengarahkan pembicaraan ke hal yang sesungguhnya dicari, " Dik, saya juga pernah punya teman yang jago utak-atik komputer, dia sering main kesini katanya, mungkin adik tahu, namanya Antonius " pak Martin mencoba mengarahkan pembicaraannya dan menyamar sebagai teman Antonius. " Ya..Antonius...itu teman baik saya, ia sedang ke luar daerah tuh ". jawab si Nonet, sang operator warnet. " Ke luar daerah ?, ke daerah mana dan dengan siapa ? " Pak Martin segera melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bisa tepat sasaran. " Maaf Kak, itu privasi " si Nonet segera menghentikan percakapannya dengan mengarahkan pandangan matanya ke arah Pak Martin yang kelihatan awet muda.

Pak Martin terus saja mencari akal, ia tidak begitu saja pergi dari warnet itu, ia ingin berlama-lama agar bisa akrab dengan para penghuni warnet. sambil browsing ia mencoba mengakses komputer server, siapa tahu saja di komputer tersebut ada dokumen yang bisa dijadikan keterangan tentang kegiatan anaknya.

Sarjana hukum yang juga lihai dalam pemakaian perangkat IT tentu memberikan nilai plus, itulah yang membuat Pak Martin menjadi pengacara hebat dikalangan para advokat. akhirnya, setelah beberapa lama mengutak-atik komputer client akhirnya ia bisa tembus ke komputer server tanpa ketahuan, sungguh diluar dugaan, Pak Martin menemukan foto-foto dan dokumen rahasia lainnya yang melibatkan pejabat tinggi dan anaknya, anaknya memang aktif dalam organisasi tersebut. Pak Martin tak habis pikir mengapa anaknya bisa begitu jauh terlibat. Pak Martin merasa menyesal karena selama ini ia tidak begitu memperhatikan anaknya. namun semua sudah menjadi bubur.

Dalam foto-foto itu, pak Martin menemukan anaknya tengah mengadakan rapat, dan beberapa dokumen yang menjelaskan denah memasuki kawasan ketat penjagaan, dan denah perencanaan peledakan suatu kawasasan. Pak Martin sungguh terkejut, anaknya sejauh itu sudah melangkah dengan langkah yg salah. sambil meneteskan air matanya Pak Martin membuka folder yang satunya lagi yang bertuliskan "Mymemory", "Klik" Pak Martin mengklik dua kali folder tersebut, dan nampak dalam folder itu beberapa buah folder lagi yang bertuliskan "Alasanku", pak Martin segera saja membuka folder "Alasanku", tapi ternyata folder tersebut telah di proteksi dengan software utility pengunci folder.

Pak Martin tidak kehabisan akal, dan untungnya kemana-kemana ia sering membawa Harddisk external yang berkapasitas 250 GB, dalam alat itu sudah terdapat berbagai jenis software crack dan salah satunya "unlock Folder" dan "Get Password Folder". langsung saja Pak Martin meluncurkan software tersebut, dan "Klik". Berhasil, Folder "Alasanku" pun terbuka. Martin segera membuka isi dalamnya, namun lagi-lagi security, file yang hendak dibuka ternyata masih ter-enkripsi. file itu terbuka namun menampakkan tulisan yang tidak jelas alias seperti sebuah simbol yang teracak.

Sebagai penggemar perangkat IT dan berbagai softwarenya, Pak Martin memiliki sebuah software pembaca file yang sudah ter-enkripsi. Namun sayang setelah ditelusuri dalam hardisk eksternalnya, software yang dimaksud tidak ada. berhubung hari sudah sore, Martin segera saja mencopy file itu, dan rencananya akan di buka di rumahnya.

Martin pun pamit, dengan hati yang masih kalut pak Martin menyusuri jalan-jalan gang yang sempit sambil sesekali melemparkan senyum kepada warga setempat yang sedang iseng duduk di tepi gang.

Dalam keheningan kamar pak Martin terus saja merenung, berpikir, dan merencanakan strategi agar semua masalah yang ditanganinya kelar, namun kadang dalam hati ia ragu, "Mungkin ngak kasus sebesar itu yang melibatkan petinggi negara bisa terselesaikan dalam hitungan bulan, tahun, atau malah berlarut-larut tak ada ujung pangkalnya", dan lebih memberatkan lagi "Anaknya" juga tersangkut paut dengan kasus itu.

" Ting !!!" suara laptop Martin berbunyi, pertanda software pembaca file enkripsi berhasil bekerja. Pak Martin segera membacanya, dan dalam dokumen itu tertulis sebuah alasan anaknya terlibat organisasi rahasia yang didanai oleh pejabat tinggi.

" Sungguh hidup ini merupakan hal yang sulit dikira, dan tak seperti yang diharapkan, banyak hal tak terduga seperti teori relativitas. semua ini aku lakukan bukan untuk iseng atau mencari nama bahkan sensasi. Mungkin benar kata orang kalau cinta itu sebuah pengorbanan. Rini gadis yang kucintai selama ini ternyata ia dimanfaatkan oleh seseorang demi suatu kepetingan politik, Rini ingin bebas namun jeratan orang itu sungguh lihai dan membuat Rini tak berkutik, bahkan jika Rini tak melakukan hal seperti yang diinginkan orang itu, maka sluruh keluarganya akan bernasib buruk, Maka aku sebagai orang yang mencintai dan peduli dengannya siap melakukan apa saja untuk membebaskan Rini, Oh..Tuhan mengapa kejadian ini begitu berat"

Pak Martin melinangkan air matanya setelah membaca dokumen itu, dan ia pun melanjutkan meneliti beberapa dokumen yang bisa ia jadikan bukti di pengadilan nanti. Pak Martin pun bertekad untuk membebaskan anaknya dari kasus ini. namun dalam hati Pak Martin selalu bertanya " Apakah orang (Pejabat tinggi) itu bisa diseret ke pengadilan, bukankah dia memiliki power yg luar biasa, belum lagi pengacara hebat lainnya yang kebetulan teman saya itu juga handal dan mampu melakukan segala cara agar kliennya bebas dari jeratan pasal-pasal hukum" .

Antonius anak Pak Martin selain ingin dijadikan saksi di pengadilan juga akan menjadi tersangka, itu jika keterangan yang diberikan tidak sesuai fakta. namun sampai saat ini Antonius masih belum tahu keberadaannya, terpaksa polisi menjadikannya ia sebagai DPO (Daftar Pencarian Orang). Dan kasus itu menjadi berlarut-larut dan menunggu hasil atau fakta berikutnya.

Dari keterangan Pak Martin, Polisi terpaksa mengeledah warnet yang selama ini diduga tempat aktivitas organisasi rahasia yang disinyalir punya hubungan dengan organisasi rahasia dunia The BILDERBERGERS, sungguh permasalahan yang pelit, mampukah para aparat negara dan petinggi-petinggi kenegaraan menyelesaikan kasus tersebut ?.

Proses pengadilan yang sudah berlangsung berminggu-minggu ini, masih saja tak ada titik temunya, Martin seolah-olah sudah putus asa. hingga akhirnya ia mendatangi teman-teman anaknya yang sudah lebih dulu masuk tahanan, dalam interogasi, Martin bersikap kasar terhadap mereka, ini semua agar mereka mau berterus-terang, membeberkan semua fakta yang benar di pengadilan nanti, tapi seolah sudah di cuci otaknya mereka juga bungkam, tak ada keterangan jelas yang bisa dikorek.

Keesokan harinya sebuah mall terbesar di Makassar meledak, hingga menjadi berita utama di media-media, Baik nasional maupun local. Polisi pun menurunkan ahli forensiknya, meneliti dan menyisir semua tempat kejadian itu. hanya beberapa bulan kemudian polisi pun mengabarkan tersangka kasus peledakan Mall tersebut, dalam berita-berita dan berbagai pamflet disebarkan tertera wajah yang tak asing bagi Pak Martin " Antonius " yang ternyata sudah berganti nama "Marsus", sungguh ini sangat menggagetkan Pak Martin, kesedihannya semakin bertambah, belum lagi ia teringat dengan sang istrinya yang sudah tiga tahun meninggalkan dunia ini, ibu Antonius.

*********
Malam yg senyap, bunyi jengkrik yang seolah berpesta seperti para bandit yang merayakan hasil rampokannya membuat Pak Martin masih sedih, terpaksa sebotol jack daniels pemberian temannya dari luar negeri akhirnya menjadi penghibur malam itu dan segumpal marlboro import menambah kesan pasrah. setiap hembusannya kian melambungkan pikirannya, mengingat terus wajah anaknya.

Saat ia hendak berbaring di sofa empuknya, bunyi Handphone-nya sangat mengganggu, ia tadinya cuek saja, tapi setelah beberapa lama ia pun akhirnya mengangkat dengan rada-rada malas, " Papa, ini Antonius pa, papa... maafkan Antonius papa, Antonius sudah banyak menyusahkan papa, papa..biarkan Antonius menyelesaikan ini semua, sebenarnya Antonius ingin segera keluar dari semua ini, tapi mereka sungguh kuat sekali dan sangat licik... ttiiiiiittt " suara Antonius-pun akhirnya terputus, yang tak sempat Pak Martin membalasnya. Kembali Pak Martin membalas nomor yang baru saja diterimanya, namun tak ada signal.

Rabu pagi, cuaca hujan masih saja membasahi seluruh isi bumi seperti air mata kesedihan meluber melewati pipi. persidangan lanjutan pun dipersiapkan, berbagai elemen masyarakat mulai memadati ruangan sidang, tak terkecuali para pers dan juga pihak keamanan dengan penjagaan ketat. Nampak tersangka dan saksi yang terdiri dari teman-teman Antonius sudah duduk pada tempatnya masing-masing. sidang ini belum menghadirkan tersangka utama, sebab masih dalam penyelidikan pihak yang berwenang, berhubung karena kasusnya saling terkait, dan beberapa tersangka masih ada di beberapa daerah terpisah. Akhirnya persidangan mandet lagi, dan seluruh berkasnya diserahkan ke pusat.

Pak Martin jauh hari sudah mempersiapkan berkas yang akan dipaparkan di depan Hakim mulia, laptop dan peralatan IT yang dimilikinya tak lupa ia bawa. Dan LCD pun dinyalakan dalam persidangan pusat untuk memperlihatkan kepada para hadirin semua dokumen yang telah didapatkan dari warnet tempat anaknya biasa nongkrong.

Dengan tanpa pikir panjang, Pak Martin segera membuka slide per slide dokumen itu, rasa takut, cemas, ataupun semacamnya kini hilang sudah, baginya sekarang adalah keadilan, walau anaknya kini entah bagaimana nasibnya. Dan mungkin inilah salah satu cara untuk menyelesaikan semuanya.

Betapa kagetnya para hadirin dan terutama Pak Hakim melihat dokumen yang berisi gambar salah seorang pejabat tinggi yang sedang berkumpul dengan para petinggi organisasi rahasia dunia itu. Gemuruh ruang sidang pun tak dapat dielakkan. Akhirnya pak Hakim menunda sidang saat itu, dan akan menghadirkan sosok pejabat yang bersangkutan yang ada dalam dokumen itu. sidang pun dilanjutkan minggu depan.

Pak Martin dalam penerbangannya menuju makassar untuk kembali bertemu dengan kawan-kawan pengacaranya yang rencananya akan saling membantu menuntaskan kasus ini, ternyata tidak berjalan mulus. Beberapa kali ia sempat mendapatkan kecelakaan dan hampir saja menemui ajalnya. Ia nyaris meminum arsenik dalam minuman gelasnya, tapi untunglah saat hendak meminumnya, pesawat yang ditumpanginya sempat guncang akibat cuaca yang tiba-tiba tidak bersahabat, padahal cuaca yang sudah diramalkan baik-baik saja. Dan mimuman yang berisi arsenik itu tumpah di depan sang pramugari. Namun Pak Martin tidak menyadari hal itu.

Setiba di Makassar, Pak Martin langsung saja mengendarai taksi bandara hasanuddin yang memang selalu dipersiapkan. Dalam taksi, pak Martin sempat tertidur pulas akibat letih yang cukup berat. Tak terasa taksi yang ditumpanginya sudah melaju di daerah Jl. A. Pettarani, dan rencananya ia akan berbelok ke arah jalan Boulevard untuk singgah di Mall Pannakkukang sekedar membeli beberapa minuman dan makanan untuk di bawah pulang ke rumahnya yang terletak di jalan pengayoman belakang Tower Telkomsel.

Saat taksi hendak memasuki pekarangan Mall tersebut, tiba-tiba saja dua pengendara motor mendekatinya dan mengarahkan sebuah revolver ke arah taksi, dan ledakan pun terdengar keras yang sempat mengangetkan warga yang sempat melintas. Kaca taksi dan bagian lainnya begitu runyam remuk diberondol timah panas. supir taksi dengan gerakan refleks berlindung di balik dasbord.

Pak Martin yang sempat mengalami luka serius segera dilarikan ke rumah sakit Bhayangkara Mappaoudang. Dalam perjalanan, Pak Martin dengan mengigau selalu menyebut nama anaknya " Antonius ..Antonius ". Dalam ruang gawat darurat, Pak Martin mendapatkan penanganan yang serius. setelah para medis berusaha dengan sekuat tenaga, Pak Martin masih bernafas. dan ia pun dipindahkan ke ruang ICU, dan mungkin mendapatkan lagi perawatan intensif lagi, bahkan juga akan dilakukan penyelidikan siapa pelaku penembakan tersebut.

Kejadian ini menjadi topik hangat harian media lokal terkenal, bahkan nasional, dan ditempatkan di halaman terdepan.

Setelah beberapa lama di rawat di rumah sakit Bhayangkara, Pak Martin mendapatkan pengawalan yang ketat, bahkan teman-teman dekatnya yang hendak membesuk sempat diperiksa satu persatu oleh penjaga.

Suasana malam di rumah sakit saat itu begitu hening, hanya beberapa perawat shift malam terlihat sedang membereskan sisa-sisa peralatan medis. Namun Penjaga yang sedang mengamankan pak Martin terlihat sedang asiknya main gaplek, namun tak disangka, jeritan dalam kamar pak Martin tiba-tiba mencuak. Pak Martin berteriak, " Antonius jangan pergi ...bersaksilah dipengadilan, ungkapkan semuanya, jangan takut, agar semua jelas, bukankah Ayahmu ini sudah menderita sampai detik ini ..!!!" . tiba-tiba penjaga tersentak meninggalkan permainan gapleknya, dan langsung saja memasuki kamar rawat pak Martin.

Para penjaga itu melihat pak Martin sedang menangis dengan pandangannya ke arah jendela yang sudah terbuka, padahal jendela tadi tertutup rapat. " Ada apa Pak !" sahut salah seorang penjaga yang bertubuh kekar bak Ade Ray. " Tadi, anak saya baru saja datang, entah kenapa ia bisa masuk tanpa sepengetahuan kalian " Pak Martin keheranan dan begitu juga sang penjaga. Ternyata Antonius memang datang malam itu, ia sempat menyamar sebagai cleaning servis, sehingga lolos dari pengamatan sang penjaga. Kedatangan Antonius menjadi misterius. sosok yang selama ini sangat membingungkan berbagai pihak, termasuk Ayahnya.

Beberapa minggu kemudian persidangan dilanjutkan, namun sang pengacara alias Pak Martin tidak bisa hadir, sebab ia masih dirawat. sidang pun di tunda.

Pak Martin yang sudah sebulan di rawat di rumah sakit, akhirnya dinyatakan sehat kembali, namun ia masih perlu mengadakan cek rutin agar kesehatannya benar-benar pulih. Dan ia pun memilih untuk tinggal di kampung halamannya, Tana Toraja.

Saat pengadilan kasus tersebut akan dilanjutkan, kawan-kawan pak Martin kebingungan. sebab pak Martin kembali hilang entah kemana, orang-orang dikampungnya juga bingung. " Minggu lalu ia sudah di jemput oleh orang berpakaian Polisi, pak " kata salah seorang kerabat pak Martin yang sudah lama menetap di Tana Toraja.

Berminggu-minggu lalu berbulan-bulan, dan hampir setahun belum ada kabar dari pak Martin, entah pergi kemana, sehingga kasus semacam ini membingungkan masyarakat. sehingga polisi menetapkan sebagai " orang Hilang" Akhirnya kasus ini menjadi semacam X Files. Kasus yang sepertinya tak tersentuh oleh Hukum.


Disarankan: 0
  Komentar: 6 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print